Perbankan Syariah di Indonesia

Kamis, 28 Februari 2013

Perbankan Syariah di Indonesia - Industri perbankan di Indonesia segera memasuki fase baru dalam perkembangannya. Tiga belas tahun merupakan sebuah angka yang cukup matang untuk melihat dan melakukan evaluasi terhadap keberadaan dan kinerja perbankan syariah selama ini. Menurut data Bank Indonesia 2005, saat ini telah berdiri tiga bank umum syariah (BUS), 17 unit usaha syariah (UUS), dan 90 bank perkreditan rakyat syariah (BPRS). Perbankan syariah telah menjadi potensi tersendiri di masa datang, walau asetnya masih sekitar 1,35 persen dari total aset perbankan nasional. Tentu banyak hal yang harus dibenahi untuk menguatkan posisi perbankan syariah secara nasional, seiring pelaksanaan Arsitektur Perbankan Indonesia (API). Peran dan fungsi perbankan syariah harus lebih strategis terhadap perbankan nasional dan perekonomian bangsa ke depan.

Perbankan Syariah di Indonesia

Catatan
Ada beberapa catatan kritis untuk pembenahan, sehingga perbankan syariah bisa tumbuh dan berkembang dalam menghadapi persaingan global. Dan yang pasti, terpenuhinya kepatuhan terhadap pelaksanaan nilai-nilai syariah dalam sistem operasional perbankan syariah.

Pertama, belum adanya Undang-undang (UU) Perbankan Syariah (legal formal), adalah titik kritis pertama yang paling mendesak dalam perkembangan industri perbankan syariah sejak berdirinya Bank Muammalat pada 1992. Melihat perkembangan dan antusiasme masyarakat dalam menyambut keberadaan perbankan syariah, rasanya payung hukum itu sudah sangat mendesak.

Banyak hal yang bisa terselesaikan dengan adanya UU Perbankan Syariah. Misalnya perizinan, pengembangan, posisi perbankan syariah dalam arsitektur perbankan nasional, persoalan merger, fungsi pengawasan, dan lain-lain. Sekarang, tanggung jawab ini ada ditangan para anggota legislatif (terutama fraksi berbasis Islam) untuk memperjuangkan agar RUU Perbankan Syariah segera disahkan.

Kedua, masalah ekuitas pembiayaan (equity financing). Sampai saat ini, persoalan tersebut --dalam hal skim mudharabah dan musyarakah-- masih terus dihadapi oleh perbankan syariah. Besarnya angka skim murabahah (debt financing) di mana data BI terakhir menyebutkan mencapai angka 63,16 persen (posisi Agustus 2005, BI), membuat peran dan fungsi perbankan syariah belum begitu dirasakan masyarakat.

Perbankan syariah perlu mencari terobosan terbaru untuk mengembangkan equity financing, terutama skim mudharabah dan musyarakah, di mana angka BI terakhir menyebutkan berada pada kisaran sekitar 31,86 persen. Di samping itu, penyaluran dana ke sektor riil belum optimal. Hal ini tecermin dari besarnya dana perbankan syariah di BI yang mencapai Rp 1,3 triliun, atau 28 persen dari total dana pihak ketiga (DPK).

Dengan demikian, ke depan diharapkan peran dan fungsi perbankan syariah menggerakkan sektor riil untuk membangun basis sosial ekonomi masyarakat. Dan sudah seharusnya BI melahirkan sebuah standardisasi dalam bentuk benchmark mengenai indikator-indikator pencapaian yang ideal dari perbankan syariah untuk menuju perbankan syariah yang berbasis equity financing (sektor riil).

Ketiga, masalah duplikasi produk. Munculnya persoalan itu ke permukaan karena paradigma pengembangan perbankan syariah di Indonesia selama ini masih terjebak pakem perbankan konvensional. Selama ini, model yang berkembang dalam perbankan konvensional adalah tidak adanya hubungan (relationship) yang kuat antara debitor dan kreditor. Pola yang terbangun hanya hak dan kewajiban tanpa ada komunikasi intens kedua belah pihak. Tanpa disadari, pola ini juga terjadi dalam setiap transaksi pembiayaan perbankan syariah (synthetic loan).

Perbankan syariah harus mampu mengubah paradigma yang selama ini digunakan perbankan konvensional menjadi pola kemitraan (partnership) yang lebih komunikatif dan memberikan pelayanan yang lebih optimal (full advise). Pemilik modal (rabbul maal) --dalam hal ini pihak bank atau nasabah lainnya-- lebih proaktif mengawasi dan memberikan saran kepada pihak yang menjalankan usaha (mudharib)

Keempat, tidak terpenuhinya kondisi dan persyaratan dari skim murabahah. Besarnya skim pembiayaan murabahah telah memberi kesan perbankan syariah tidak terlalu mengambil risiko dalam menjalankan usahanya. Dalam kaidah fikih, terdapat syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk memberikan pembiayaan dalam bentuk murabahah. Di antaranya objek barang yang akan di jual harus ada pada waktu transaksi, barang yang akan dijual harus sudah dimiliki oleh si penjual, dan objek atau barang yang dijual tersebut harus ada secara fisik pada saat di jual.

Di satu sisi bisa dipahami, sebagai industri yang masih baru berkembang, perbankan syariah tentu cenderung bertahan sebagai pemain yang aman (safety player). Karena revenue atau profit yang akan dihasilkan dari skim pembiayaan murabahah ini lebih pasti, dengan risiko minim. Tapi kenyataanya, sering terjadi di lapangan perbankan syariah hanya mengambil sisi profit oriented saja, tanpa memperhatikan kaidah fikih dari syarat-syarat berlakunya skim murabahah.

Kelima, tidak adanya perbedaan secara ekonomi antara skim murabahah dan bunga pinjaman. Tidak bisa dipungkiri sistem penghitungan antara skim murabahan dengan bunga pinjaman (interest loan) tidak terlalu jauh berbeda, bahkan bisa dikatakan sama.

Secara konvensional penghitungan interest loan merujuk kepada persamaan: D = L (I+rt), di mana D = Debt (hutang), L = Loan (pinjaman), rt = rate of interest period (periode tingkat suku bunga). Sementara itu, skim murabahah menggunakan model penghitungan, Pm = Pc (I+rt), di mana Pm = Price of murabahah (harga dari murabahah), Pc = Price of cost, dan rt = rate of revenue period.

Dilihat dari metode penghitungannya, yang menjadi titik kritis perbedaan keduanya adalah cara pandang terhadap rt. Bagi konvensional, rt didefinisikan sebagai tingkat bunga yang sudah ditetapkan oleh pihak bank diawal, untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga pokok dengan pembayaran cicilan (instalment), dan juga disebabkan karena berlakunya teori time value of money. Sementara bank syariah mendefinisikan rt sebagai fee yang diperoleh oleh pihak bank atas jasa yang sudah diberikan. Tapi kadang pemenuhan akan diakuinya transaksi murabahah dalam ushul fikihnya sering tidak diperhatikan.

Keenam, Arbitrase Muamalah. Belum disahkannya UU Perbankan Syariah akan membuat instrumen-instrumen pendukung perbankan syariah belum bisa dijalankan karena akan terkendala dengan payung hukum. Salah satu yang paling mendesak adalah keberadaan lembaga yang akan memfasilitasi setiap masalah yang timbul dalam setiap sengketa yang ada. Diharapkan nantinya UU perbankan syariah bisa memfasilitasi pembentukan instrumen khusus ini. Karena semakin pesat perkembangan perbankan syariah, akan semakin banyak persoalan dan masalah menyangkut hubungan antarinstitusi dan individu.

Kepatuhan syariah
Walau aset perbankan syariah baru 1,3 persen dari total aset perbankan nasional, tapi trennya menunjukkan peningkatan. Diharapkan di masa depan perbankan syariah mampu memberikan benefit yang besar bagi perkembangan ekonomi nasional, khususnya pelaku-pelaku ekonomi kecil dan menengah (UKM). Semuanya hanya bisa dicapai ketika perbankan syariah menjadikan equity financing (mudharabah dan musyarakah ) sebagai ujung tombaknya.

Industri keuangan Islam, khusunya perbankan syariah, harus mampu memberikan benefit yang besar buat pembangunan sosio-ekonomi masyarakat, sehingga kesan bank syariah yang eksklusif bisa hilang. Dengan melihat persentase jenis usaha yang berkembang saat ini, di mana lebih dari 80 persen berada pada sektor UKM, perbankan syariah berpeluang menjadi pemain utama (leading sector) dalam pembiayaan skim-skim yang berpihak kepada masyarakat UKM.

Selama ini, yang baru diuntungkan adalah pihak yang terlibat langsung: (tripartite structure) yaitu pemilik modal (stakeholder), manajemen (bank), nasabah (client). Ke depan, tentu aspek sosio ekonomi yang harus lebih diperhatikan, sehingga keberadaan perbankan syariah mampu berperan signifikan terhadap perekonomian nasional.

Yang juga menjadi perhatian utama dalam menghadapi tantangan ke depan adalah kepatuhan terhadap syariah. Aspek yang paling membedakan sistem konvensional dan syariah adalah pemenuhan kepatuhan terhadap nilai-nilai syariah (shariah compliance). Aspek inilah yang menjadikan perbankan syariah memiliki kelebihan dari operasional perbankan konvensional, sebab menjamin penerapan nilai-nilai keadilan bagi pelaku-pelaku ekonomi, dan tentu saja terpenuhinya nilai-nilai syariah yang lebih utuh.

Tantangan inilah yang seharusnya bisa dijawab oleh semua instrumen dalam operasional sebuah perbankan, terutama pihak regulator (BI), kontroler (syariah advisor) yang ada di Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syariah (DPS); dan manajemen operasional perbankan sendiri. Sinergi semua instrumen tersebut akan menghasilkan sebuah sistem yang memberikan nilai terhadap sistim perbankan nasional, bahkan ekonomi nasional di kemudian hari. Dan pada saatnya akan berdampak kepada terwujudnya keadilan ekonomi dan masyarakat yang sejahtera.

Handi Risza Idris, Dosen Syariah Economic Banking Institute (SEBI), Peneliti Islamic Economic Forum for Indonesian Development (ISEFID)

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah - Pertumbuhan pembiayaan yang tinggi di tengah pasar perbankan syariah yang sedang berkembang di Indonesia merupakan suatu yang didambakan. Akan tetapi, pertumbuhan pembiayaan yang tinggi bukan segalanya. Hal yang didambakan adalah pembiayaan dengan portfolio sehat dan tumbuh sesuai kebutuhan pasar. Oleh karena semangat tinggi dalam pertumbuhan, seringkali setelah pembiayaan diberikan bukan peningkatan pendapatan yang diperoleh. Hal yang muncul, justru permasalahan pembiayaan.

Bank Pembiayaan Rakyat Syariah


Pembiayaan bermasalah pada perbankan syariah mengalami peningkatan cukup berarti dalam dua tahun terakhir. Pada akhir 2005 gross NPF (Non Performance Finance) baru sekitar 2,82%, namun pada akhir 2006 meningkat tajam menjadi 4,75%, dan hingga akhir triwulan III-2007 berada pada posisi 6,63%. Peningkatan pembiayaan bermasalah pada industri perbankan syariah terjadi karena berbagai faktor, baik dari internal bank, internal nasabah, ataupun masalah eksternal.

a. Permasalahan Pembiayaan Bank Syariah
Permasalahan internal dari pihak bank syariah sebagai pemberi pembiayaan, secara umum dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- petugas pembiayaan, baik marketing maupun analis kurang memahami seluk beluk sektor usaha pada pembiayaan yang diberikan; - pembidangan pembiayaan belum dilakukan melalui spesialisasi segmen usaha, sehingga analis belum memiliki pendalaman terhadap satu atau beberapa sektor usaha yang dianalisanya;
- pemutus pembiayaan kurang mendapat informasi mengenai usaha dan sektor ekonomi yang dibiayai; - akad pembiayaan memiliki kelemahan, sehingga posisi bank syariah menjadi lemah;
- ketidakdisiplinan dalam melakukan monitoring, baik untuk pemenuhan persyaratan akad pembiayaan maupun perkembangan usaha nasabah; - kurang cepat tanggap dalam menyikapi permasalahan yang dialami oleh nasabah atas usaha yang dibiayai.

Permasalahan internal dari pihak nasabah pembiayaan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- kurang terbukanya atau kurang lengkapnya informasi yang diberikan nasabah pada saat proses pembiayaan;
- pembiayaan yang diberikan digunakan tidak sesuai dengan peruntukkan yang diperjanjikan dalam akad pembiayaan; - terjadi mismanagement pada usaha yang dijalankan nasabah;
- kondisi keuangan nasabah memburuk; - manajemen tidak memiliki kemampuan prima dalam mengelola perusahaan;
- nasabah tidak mempunyai itikad baik dalam menyelesaikan kewajiban; - penerapan good corporate governance pada debitur lemah.
Permasalahan eksternal di luar pihak bank syariah ataupun nasabah yang dapat menimbulkan pembiayaan bermasalah, dapat diidentifikasi sebagai berikut:
- kondisi makro perekonomian kurang kondusif yang dapat mempengaruhi dunia usaha secara menyeluruh;
- regulasi domestik dan internasional yang dapat mempengaruhi usaha-usaha tertentu yang telah berjalan; - fluktuasi suku bunga bank kovensional masih menjadi pertimbangan dan alasan masyarakat dalam transaksi pembiayaan bank syariah;
- kondisi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut modifikasi dan diversifikasi usaha secara terus menerus; - munculnya produk subtitusi terhadap sebuah produk pembiayaan yang dikenal selama ini;
- kelangkaan bahan baku yang dapat memperlambat atau menghentikan produksi; - terjadinya musibah bencana alam yang dapat menghambat proses produksi baik parsial maupun secara menyeluruh.

Memperhatikan hal-hal yang telah diidentifikasi di atas, maka semua lini dalam pembiayaan pada sebuah bank syariah harus dapat memahami kondisi-kondisi yang terjadi sehingga dapat meminimalisasi pembiayaan bermasalah baik saat pemberian maupun pada masa yang akan datang. Di samping masalah teknis pemberian pembiayaan, para personal yang terkait dengan pembiayaan harus memahami kondisi perekonomian pada saat pembiayaan diberikan serta prediksi ke masa depan.

b. Proyeksi Pembiayaan Perbankan Nasional
Berdasarkan survei Bank Indonesia, selama tahun 2007 secara umum permintaan masyarakat terhadap pembiayaan baru perbankan mengalami peningkatan. Faktor utama yang mendorong meningkatnya permintaan adalah peningkatan kebutuhan pembiayaan dan penurunan suku bunga kredit. Namun demikian, pembiayaan yang diberikan perbankan nasional masih di bawah target yang telah ditetapkan. Hal tersebut terjadi karena kondisi perekonomian yang belum membaik serta tingginya risiko usaha nasabah, sehingga bank masih menahan diri untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor ril.

Sektor-sektor usaha yang masih dihindari oleh perbankan dalam menyalurkan pembiayaan adalah:
- industri tekstil/garment karena kebijakan pemerintah dirasakan belum mendukung;
- industri pengolahan plywood dan produk dari kayu disebabkan untuk menghindari risiko illegal logging yang masih marak; - bangunan (khususnya mall) karena over supply sehingga berisiko tinggi.

Pada tahun 2008 diperkirakan pemberian kredit baru masih akan meningkat. Peningkatan tersebut terjadi karena tersedianya rasio kecukupan modal bank dan likuiditas perbankan di sisi internal bank. Sedangkan dari sisi eksternal, peningkatan terjadi karena kebijakan Bank Indonesia dalam mendorong penurunan suku bunga serta tingkat persaingan antar bank dalam menyalurkan kredit.

Prioritas utama penyaluran pembiayaan pada tahun 2008, diperkirakan sebagian besar berupa modal kerja namun pembiayaan investasi juga akan mengalami peningkatan dari periode sebelumnya.

c. Sektor Unggulan Pembiayaan
Sesuai dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini yang ditopang oleh sektor konsumsi rumah tangga dibandingkan produksi dunia usaha, maka hal ini juga tercermin pada kredit yang diberikan perbankan. Pemberian kredit baru paling besar terjadi pada pembiayaan konsumer serta sektor-sektor ekonomi yang mendukung konsumsi, yakni sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor jasa dunia usaha.

Sebagian besar isi dari pembiayaan kepada sektor jasa dunia usaha merupakan kredit konsumsi yang diteruskan kepada masyarakat melalui multi finance, koperasi simpan pinjam, dan lembaga-lembaga pembiayaan pemilikan rumah, kendaraan bermotor, dan barang konsumsi lainnya. Pertumbuhan pembiayaan konsumsi, selama 5 tahun terakhir, sangat signifikan. Pada akhir tahun 2002, baru berjumlah Rp80 trilyun atau 21,5% dari total kredit perbankan. Pada akhir September 2007 telah berjumlah Rp266 trilyun atau meningkat lebih tiga kali lipat dalam jangka waktu tidak sampai lima tahun. Komposisi pembiayaan konsumsi terbesar ada pada segmen konsumsi lainnya (bukan kredit pemilikan rumah, ruko ataupun apartemen) yang mencapai 70% lebih dari total kredit konsumsi nasional.

Pada tahun 2002, pembiayaan konsumer dianggap sebagai primadona karena memiliki NPL segmen relatif hanya 2,63% dengan nilai absolut sebesar Rp 2,1 trilyun. Namun per triwulan III-2007, NPL absolut segmen pembiayaan konsumer telah ikut berkembang lebih dari empat kali lipat, yakni mencapai Rp 8,8 trilyun. NPL relatif pembiayaan consumer, saat ini, mencapai 3,3%. Dengan demikian, meskipun NPL pembiayaan konsumer masih di bawah 5%, namun perlu diwaspadai lebih lanjut agar tidak menjadi permasalahan besar di kemudian hari.

Dari kondisi di atas, seharusnya perbankan syariah tidak mengikuti langkah perbankan konvensional yang mengucurkan pembiayaan dengan porsi besar terhadap pembiayaan konsumsi. Apalagi tujuan semula didirikannya perbankan syariah adalah untuk mendorong pertumbuhan sektor produktif di segmen mikro, kecil, dan menengah. Namun apa daya, masih banyak hal yang belum bisa dilakukan oleh pelaku bank syariah untuk mencapai sebuah idealisme akibat berbagai faktor yang melatarbelakanginya.

MERZA GAMAL
kabarindonesia.com
source:http://ekisopini.blogspot.com/2009/09/tantangan-pemberian-pembiayaan-syariah.html

Mudharabah dalam Ekonomi Islam

Minggu, 24 Februari 2013

Berikut akan di sampaikan secara singkat tentang Mudharabah dalam Ekonomi Islam. Secara teknis, mudharabah adalah akad kerjasama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (shahibul mal) menyediakan seluruh modal (100%), sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha bersama dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Sedangkan bila mendapat kerugian akan ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Namun bila dia ikut punya andil dalam kerugian itu, maka dia wajib menanggungnya.

Mudharabah

Mudharabah adalah salah satu jenis akad yang secara umum bisa dilakukan oleh sebuah bank syariah. Jenisnya termasuk akad Trust Financing atau Trust Investmen. Aplikasi dalam perbankan biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Pada sisi penghimpinan dana, bisa berbentuk :
  1. Tabungan berjangka, yaitu tabungan yang dimaksud untuk tujuan khusus seperti tabungan haji, tabungan kurban dan sebagainya.
  2. Deposito Spesial (Special Investmen), dimana dana yang dititipkan nasabah khusus untuk bisnis tertentu.
Sedangkan dari sisi pembiayaan, bisa diterapkan pada :
  1. Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa.
  2. Investasi Khusus, atau disebut juga Mudharabah Muqayyadah, dimana sumber dan khusus dengan penyaluran yang khusus dengan syarat-syarat yang telah diterapkan oleh shahibul mal. Sistem Mudharabah ini adalah sistem yang bebas dari bunga (interest) yang diharamkan. Sehingga aman dan tidak diharamkan dalam syariat.

Source : SCC

Ekonomi Mikro

Ketika kita bebicara tentang Ekonomi Mikro Islam, maka sebelumnya kita akan membahas tentang ekonomi secara umum, kita sering menjumpai dua istilah dalam ekonomi, yaitu economic dan economy. Pengertiannya adalah:

  • Economic = ekonomi sebagai teori
  • Economy = ekonomi sebagai praktek 

sedangkan secara sistem keuangan islam, negara yang pertama kali mengharamkan riba adalah Iran di mulai awal th 80an, kemudian menyusul negara pakistan.


Dalam prakteknya, ekonomi di kenal dalam dua istilah yaitu ekonomi makro dan ekonomi mikro. Ekonomi Mikro adalah ekonomi yang mempelajari perilaku ekonomi dalam pasar tertentu. Pelaku ekonomi dalam hal ini seperti Rumah tangga, Perusahaan, Pemerintah (regulasi). Sedangkan Ekonomi Makro adalah ekonomi yang mempelajari ekonomi secara keseluruhan dalam suartu negara dalam kurun waktu tertentu, terutama mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, pengangguran, berbagai kebijakan perekonomian yang berhubungan.

Ekonomi Mikro


Setelah mengetahui ekonomi secara umum, maka kita akan mengetahui permasalahan mendasar dalam ekonomi kapitalis, yaitu dalam ekonomi konvensional masalah ekonomi timbul karena adanya kelangkaan sumberdaya yang dihadapkan pada keinginan manusia yang tidak terbatas.

Apa ini juga masalah dalam ekonomi islam ?

Baca Juga :
Sekilas Tentang Ekonomi Kapitalis

Ekonomi Kapitalis


Secara umum akan digambarkan tentang ekonomi kapitalis secara sederhana. Menurut adam smith, serakah itu bagus, hal ini penting bagi ekonomi kapitalis, karena perusahaan mendapat keuntungan sebanyak-banyaknya, sehingga membuka lowongan kerja, dalam pengertiannya ketika tidak serakah bagimana mungkin bisa membuka lapangan kerja. Akibat dari hal ini adalah :
  • Sekuritisasi asset
  • Portfolio orang yang tidak mampu kemudian di jual sebagai surat hutang bank, kepada orang yang tidak mampu.

Nilai & Moral Ekonomi Kapitalis
Ketika perbank-kan mengalami penyusutan, maka akibatnya adalah bank akan menahan pembiayaan kepada orang lain, khawatirnya akan terjadi kerugian kembali, hal ini mengakibatkan ekonomi akan berjalan lamban, maka untuk mengefisienkan perekonomian perusahaan maka tenaga kerja di kurangi/ phk. Hal seperti diatas adalah gambaran secara umum tentang nilai dna moral dalam ekonomi kapitalis.

E-Banking BRI Syariah

Minggu, 23 Desember 2012

E-Banking Banking BRI Syariah merupakan salah satu fasilitas yang disediakan oleh Bank BRI Syariah sebagai sarana memudahkan para nasabah dalam melakukan transaksi. E-Banking Banking BRI Syariah ini bisa kita operasikan kapan saja dan di mana saja, tidak perlu lagi membuang-buang waktu pergi ke Kantor Bank ataupun ATM. Fasilitas ini bisa menjadi hal yang wajib terutama bagi seorang enterpreuner baik online maupun offline yang sering melakukan tranksaksi keuangan kapan pun tanpa mengenal waktu. Dengan E-Banking ini anda bisa melakukan transfer dana antar rekening maupun antar bank, pembayaran tagihan, pembelian pulsa isi ulang atau pengecekan saldo dan mutasi rekening. Namun, sepertinya BRI Syariah belum menyediakan fasilitas internet banking, karena E-Banking yang ditawarkan adalah Cash Management System,  E –payroll dan SMS Banking. Semoga saja suatu saat BRI Syariah membuka layanan internet bankingnya seperti pada BRI konvensionalnya. Untuk mendapatkan layanan E-Banking ini, anda yang telah memiliki rekening Tabungan BRIS iB atau Giro BRIS iB harus mengajukan layanan E-Banking Group terebih dahulu dengan menghubungi kantor cabang BRIS terdekat. Berikut keuntungan dan produk E-Banking Banking BRI Syariah, diambil dari situs resminya.

Keuntungan Layanan Electronic Banking :
  1. Mudah
  2. Dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja.
  3. Hanya dengan menggunakan perintah melalui komputer dan atau alat komunikasi yang anda gunakan dapat langsung melakukan transaksi perbankan tanpa datang ke kantor BRIS.
  4. Aman
  5. Produk Electronic  Banking BRIS dilengkapi dengan security user ID dan PIN untuk menjamin keamanan atas transaksi yang Anda lakukan
  6. Transaksi  financial melalui CMS dilengkapi dengan key token untuk mengamankan transaksi  Anda.
BRI Syariah

Produk Electronic Banking BRIS
1. Kartu ATM dan kartu Debit BRIS
Kartu ATM dan kartu Debit BRIS adalah kartu khusus yang diberikan oleh BRIS kepada pemilik rekening yang dapat digunakan untuk bertransaksi secara elektronis atas rekening tersebut.  Pada saat kartu digunakan bertransaksi akan langsung mengurangi dana yang tersedia pada rekening.
Apabila digunakan untuk bertransaksi di mesin ATM, maka disbut sebagai kartu ATM. Sedangkan apabila digunakan untuk transaksi pembayaran dan pembelanjaan non tunai dengan menggunakan mesin EDC (Electronic Data Capture) maka kartu tersebut dikenal sebagai kartu debit.
Kartu ATM BRIS dapat digunakan di  seluruh jaringan  ATM BRIS, ATM BRI, ATM Prima dan ATM Bersama, untuk jenis transaksi sbb :
  • Penarikan tunai
  • Transfer dana
  • Informasi saldo dan mutasi rekening
  • Pembayaran PLN, Telkom, Zakat, Infak
  • Pembelian  pulsa isi ulang
2. Kartu Co-Branding BRIS
Adalah kartu  ATM yang diterbitkan oleh BRIS bekerjasama dengan  nasabah institusi untuk para anggota atau konsumennya.  Kartu  co-branding mempunyai manfaat yang sama dengan kartu ATM atau kartu Debit BRIS,  dengan keunggulannya adalah desain kartu yang sepenuhnya ditentukan oleh nasabah institusi.
Manfaat kartu Co-Branding BRIS adalah :
  • Sebagai kartu identitas yang dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari
  • Meningkatkan loyalitas anggota / konsumen kepada  institusi yang bekerjasama dengan BRIS untuk menerbitkan kartu, karena kartu  anggotanya prestisius
  • Meningkatkan corporate image  institusi
 3. Cash Management System
Anda, khususnya nasabah perusahaan, saat ini telah  dapat melakukan transaksi perbankan baik financial maupun non financial melalui  komputer Anda yang terhubung dengan jaringan system BRIS.
Jenis Transaksi yang dapat dilakukan :
  • Informasi Saldo Rekening
  • Informasi Mutasi  Rekening
  • Transfer dana ke rekening BRIS
  • E-Payroll
  • Pembayaran tagihan, misalnya PLN, Telkom dan lainnya.
4. University / School Payment System  (SPP)
Adalah system pembayaran (bill payment)  sekolah atau universitas yang dibuatkan BRIS untuk memudahkan  para siswa / mahasiswa untuk melakukan pembayaran biaya pendidikannya melalui layanan perbankan secara online.
Manfaat produk ini :
Bagi  Siswa / Mahasiswa
  • Dapat melakukan pembayaran pendidikan kapan saja dan dimana saja
  • Melakukan pembayaran pendidikan secara mudah, aman,  nyaman dan akurat.
Bagi Sekolah / Perguruan Tinggi
  • Memudahkan dalam mengadministrasikan pembayaran siswa / mahasiswa
  • Mendapatkan laporan pembayaran yang akurat dan tepat waktu
  • Aplikasi SPP BRIS dapat dengan mudah diintegrasikan dengan system yang sudah ada di sekolah / perguruan tinggi
  • Dapat mengakomodir berbagai jenis pembayaran pendidikan di sekolah / perguruan tinggi.
5. SMS Banking
Adalah layanan informasi perbankan yang dapat diakses langsung melalui telepon selular/handphone dengan menggunakan media  SMS (short message services).
Jenis Transaksi yang dapat dilakukan :
  • Informasi saldo
  • Transfer dana ke rekening BRIS
  • Pembayaran  PLN dan Telkom
  • Pembelian pulsa isi ulang
  • Cara mendapatkan layanan  SMS Banking BRIS :
  • Melakukan registrasi melalui ATM BRIS
  • Mendatangi kantor cabang BRIS terdekat
6. BRIS  Remittance
Adalah  layanan pengiriman/penerimaan uang dengan metode notifikasi melalui telepon seluler/handphone (Short Message Service, SMS) dimana penerima dapat mencairkan uang tersebut dengan menunjukkan notifikasi SMS yang diterima di telepon selular yang didaftarkannya.
BRIS remittance member kemudahan pengirim dan penerima uang untuk mengirimkan uangnya tanpa harus membuka rekening di Bank.
BRIS Remittance melayani pengiriman uang secara domestic  dan dari luar negeri, khususnya dari  Malaysia, Hongkong dan segera menyusul dari  Jepang.  Pengambilan uang  dapat dilakukan di seluruh  Kantor BRIS.  Untuk pengiriman dari Luar Negeri, BRIS bekerjasama dengan  mitra.
Biaya pengiriman sangat terjangkau yaitu :
Dalam Negeri    :  Rp. 10.000,- / transaksi
Malaysia           :  RM 10  / transaksi
Hongkong         :  HD  30 / transaksi
Batasan transaksi pengiriman :
Maksimal pengiriman uang Rp. 5.000.000.-/transaksi.
Maksimal pengiriman uang Rp. 10.000.000,-/hari.
Maksimal pengiriman uang Rp  30.000.000,-/bulan.

7. Electronic Data Capture (EDC) Mini ATM BRIS
 EDC Mini ATM Adalah alat transaksi berbentuk Electronic Data Capture untuk menerima transaksi baik berbasis tunai maupun berbasis kartu .
Transaksi  yang dapat dilakukan di EDC Mini ATM BRIS :
  • Informasi Saldo
  • Transfer dana ke rekening BRIS
  • Pembayaran : PLN, Telkom, Zakat, Infak
  • Pembelian pulsa isi ulang
  • Penyetoran angsuran pembiayaan UMS BRIS

Artikel Selanjutnya :

 
Bank Syariah © 2012 - Web Desain Jakarta Designed by Bubble Shooter, in collaboration with Reseller Hosting , Forum Jual Beli and Business Solutions